bahaya memuja kesibukan
hustle culture sebagai gangguan kesehatan mental
Pernahkah kita merasa bersalah hanya karena sedang duduk santai di akhir pekan, tanpa melakukan apa-apa? Jantung tiba-tiba berdebar sedikit lebih cepat. Pikiran mulai berisik. Seolah-olah ada suara kecil di kepala yang berbisik bahwa kita sedang membuang-buang waktu. Saya rasa, banyak dari kita pernah mengalami momen ini. Hari ini, kalimat "aduh, saya sibuk banget nih" tidak lagi terdengar seperti keluhan. Kalimat itu justru terdengar seperti sebuah piala. Kita memamerkan kurang tidur dan jadwal yang padat seperti medali kehormatan. Namun, mari kita berhenti sejenak dan berpikir bersama. Mengapa kita merasa bahwa kelelahan adalah bukti dari nilai diri kita?
Mari kita mundur sedikit ke belakang. Secara historis, memuja kesibukan adalah fenomena yang sangat aneh. Ratusan tahun lalu, simbol status tertinggi adalah waktu luang. Para bangsawan dan orang kaya di masa lalu memamerkan kekayaan mereka dengan cara tidak melakukan apa-apa. Mereka adalah kelompok yang disebut oleh sosiolog sebagai leisure class. Mereka melukis, berburu santai, dan membaca puisi. Bekerja keras dari pagi hingga malam adalah tanda bahwa Anda berada di kelas bawah.
Namun, roda sejarah berputar. Revolusi industri datang, diikuti oleh modernisasi dan layar bercahaya di genggaman kita. Tiba-tiba, narasinya terbalik. Sekarang, semakin Anda sibuk, semakin Anda terlihat penting. Kita masuk ke dalam era hustle culture, sebuah budaya yang mengajarkan bahwa kita harus selalu berlari lebih cepat dan bekerja lebih keras. Kita dicekoki ilusi bahwa setiap detik yang tidak diuangkan atau diproduktifkan adalah sebuah dosa besar.
Di sinilah segala sesuatunya mulai terasa janggal. Kita bekerja lebih lama, tetapi apakah kita benar-benar menghasilkan karya yang lebih baik? Atau kita hanya sibuk demi terlihat sibuk?
Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita. Ketika kita membalas email di tengah malam atau mencoret satu tugas dari to-do list yang tak ada habisnya, otak kita melepaskan sedikit dopamin. Ini adalah senyawa kimia yang memberikan rasa puas instan. Kita merasa menang. Namun, siklus ini menjebak. Kita mulai mengejar "kemenangan-kemenangan" kecil tersebut tanpa henti. Pertanyaannya kemudian, jika tubuh kita berteriak minta istirahat, mengapa otak kita justru memaksa kita untuk terus menyiksa diri? Apakah ini sekadar etos kerja yang tinggi, atau jangan-jangan ada sesuatu yang lebih gelap sedang mengambil alih sistem saraf kita?
Inilah realitas ilmiah yang harus kita hadapi bersama. Memuja kesibukan ekstrem sebenarnya bukan tanda ambisi, melainkan sebuah bentuk pelarian.
Psikologi modern mulai melihat hustle culture yang tidak terkendali ini sebagai sebuah gangguan. Ketika kita terus-menerus memaksakan diri dalam mode "kerja", tubuh kita memproduksi hormon stres kortisol tanpa henti. Dalam dosis kecil, kortisol memang membantu kita fokus. Namun, jika terus-menerus dibanjiri kortisol, sistem saraf kita akan mengalami burnout kronis.
Kecanduan sibuk pada dasarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang sangat canggih. Banyak dari kita menggunakan kesibukan untuk menghindari perasaan tidak nyaman. Kita lari dari kecemasan, rasa kesepian, atau kekosongan dengan cara menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ini adalah apa yang para ahli sebut sebagai toxic productivity. Otak kita menjadi terbiasa dengan kekacauan dan stres, sehingga keheningan terasa seperti ancaman. Kita tidak lagi bekerja untuk hidup; kita menjadikan pekerjaan sebagai pelarian dari kehidupan itu sendiri. Ini bukan lagi soal produktivitas, teman-teman. Ini adalah masalah kesehatan mental. Kita secara literal sedang mengagungkan disregulasi sistem saraf.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Langkah pertama adalah menyadari bahwa kita telah ditipu oleh narasi yang salah. Kita bukanlah mesin, dan nilai kemanusiaan kita tidak diukur dari seberapa banyak hal yang bisa kita hasilkan dalam 24 jam.
Mari kita mulai menormalisasi istirahat, bukan sebagai hadiah karena telah bekerja sampai pingsan, melainkan sebagai kebutuhan biologis dasar. Sesekali, cobalah untuk duduk diam tanpa layar, tanpa daftar tugas, dan biarkan pikiran kita mengembara. Mungkin awalnya akan terasa aneh dan menakutkan. Tapi percayalah, di dalam keheningan itulah kita benar-benar menemukan kembali siapa diri kita yang sebenarnya. Teman-teman, dunia tidak akan runtuh hanya karena kita memilih untuk tidur siang. Istirahatlah, karena keberadaan kita jauh lebih berharga daripada produktivitas kita.